SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE .:AL-QUR'AN SUMBER INSPIRASI:.
Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah membuka pendaftaran Santri Baru Putra dan Putri Tingkat SMP/MTs Tahun Pelajaran 2015/2016. Segera bergabung bersama kami, tempat terbatas. Informasi www,miftahunnajah.com, CP. 0813 2885 3114

4 Dec 2008

KITA dan AL-QUR'AN

Alloh swt telah menciptakan manusia dari ketiadaan agar manusia menjadi abdun dan kholifah di muka bumi. Suatu posisi yang sangat istimewa yang dimiliki seorang makhluq terhadap Sang Kholiq. Dan Allohpun tahu bahwa manusia tidak akan bisa melakukan posisi tersebut jika tanpa adanya buku panduan operasional. Maka Alloh melengkapinya dengan Al-Qur’an.

Alloh adalah pencipta manusia, maka hanya Allohlah yang tahu persis karakteristik manusia. Dan Allohpun tahu bahwa hanya dengan hukumNya lah manusia akan selamat. Maka bila kita ingin selamat dan sukses dalam menjalankan posisi mulia tersebut haruslah berpedoman pada Al-Qur’an yang telah diturunkan Alloh


AL-QUR'AN SEBAGAI AL-HUDA
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)

Al-Qur'an sebagai al-huda, yaitu sebagai pedoman dan petunjuk hidup menuju kebahagiaan ganda dunia-akhirat. Manusia tidak akan tersesat selamanya bila berpegang teguh dengan Al-Qur’an sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isro’:9
Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.
Rasulullah bersabda, Sesungguhnya aku tinggalkan kepadamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat sesudahku selagi berpegang kepadanya selamanya, yakni kitab Alloh dan Sunnahku, (HR Turmudzi)

AL-QUR'AN SEBAGAI AL-FURQON
Yaitu sebagai pembeda antara yang haq dan yang bathil, antara yang halal dan haram, antara yang baik dan yang buruk
Akal manusia, karena keterbatasannya sering terjebak dalam subyektifitas dan relatifitasnya. Apa yang baik menurut akal seseorang belum tentu baik menurut yang lain. Di sinilah pentingnya al-quran sebagai furqon

AL-QUR'AN SEBAGAI ADZ-DZIKRI DAN AL-BURHAN
Yaitu sebagai peringatan dan pelajaran bagi ummat manusia. Oleh karena itu al-Quran berisi kabar gembira bagi yang mentaatinya dan ancaman bagi yang ingkar serta berisi pelita (penerang) dan bukti kebenaran untuk mendapatkan kebahagiaan dunia-akhirat. Allah berfirman, Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (QS. An-Nisa':174)

KEHARUSAN MEMPELAJARI AL-QUR’AN
Mengingat begitu pentingnya fungsi Al-Qur’an bagi hidup dan kehidupan manusia maka sudah seharusnya ummat Islam mempelajarinya. Sebab bila tidak, tentu tidak mungkin menempatkan Al-Qur’an sebagai fungsi yang semestinya. Sehingga meskipun banyak orang Islam yang membacanya tetapi hanya di bibir saja. Aktifitasnya justru bertentangan dengan Al-Qur’an. Na’udzu billah min dzaalik.

Alloh SWT dalam QS Al-Furqon:30 menceritakan kegelisahan hati Rasulullah dengan firmanNya: Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan"

Siapakah orang yang meninggalkan Al-Quran?
Ibnu Taimiyyah berkata. “Ada 3 golongan orang yang dikatakan meninggalkan Al-Qur’an”, yaitu:
1.Orang yang tidak pernah membaca Al-Qur’an
2.Orang yang membaca Al-Qur’an namun tidak memikirkan isi dan maknanya
3.Orang yang membaca, memikirkan isi dan maknanya tetapi tidak mengamalkannya

Mungkin inilah yang menimpa umat Islam saat ini. Banyak mereka yang menyimpang, berpaling dan membelakangi Al-Qur’an. Maka Alloh akan menjadikan hidupnya sempit dan di akhirat kelak ia akan dikumpulkan dalan keadaan buta sebagaimana firman Allah dalam QS.Thaahaa:124-126
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"
Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan".


Read More “KITA dan AL-QUR'AN”  »»

'Uluumul Qur'an

Kata ‘Uluum adalah bentuk jamak dari ‘ilmu yang artinya ilmu/ pengetahuan/ wawasan. Jadi ‘uluumul qur’an adalah ilmu-ilmu atau pengetahuan seputar Al-Qur’an. Dengan mempelajari ‘uluumul qur’an, seseorang akan mengetahui lebih dalam tentang seluk-beluk al-Qur’an. Adapun beberapa hal yang terkait dengan ‘uluumul qur’an antara lain:

1. Definisi Al-Qur’an

          Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang merupakan mu’jizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantaraan malaikat Jibril as., yang ditulis dalam mush-haf, diriwayatkan secara mutawatir, dan bernilai Ibadan dalam membacanya.

Dari definisi di atas, maka kalam Allah yang diturunkan kepada selain Nabi Muhammad SAW, seperti Taurat, Zabur, Injil dan shuhuf Ibrohiim tidak dinamakan Al-Qur’an. Demikian halnya dengan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tetapi tidak dimasukkan ke dalam mush-haf, juga tidak dinamakan Al-Qur’an, tapi disebut hadits qudsi

Al-Qur’an sebagi mu’jizat, artinya Al-Qur’an merupakan sesuatu yang luar biasa yang tiada kuasa seorang manusia dan jin dapat menandinginya, karena hal itu di luar kesanggupannya. (QS Al Isra’: 88)

2.  Nama-nama Al-Qur’an

     Allah SWT memberi nama kitabNYA dengan nama Al-Qur’an yang berarti bacaan (QS Al-Qiyamah:17-18, QS Al Isra’:88, QS Al Waqi’ah:77). Selain nama Al-Qur’an, Allah juga memberi beberapa nama lain, diantaranya:

* Al Kitab (QS Al Baqoroh: 2)

* Adz Dzikr (QS Hijr: 9)

* Al Furqon (QS Al Furqon:1)

* Al Burhan

* Al Mubiin

* Al Munazzal

* An Nuur

* Al Huda

* Asy Syafa’, dll

3.  Nama-nama Surat Al-Qur’an

Nama-nama surat dalam Al-Qur’an, batas-batas tiap surat, urutan surat serta susunan ayat-ayatnya merupakan tauqifi, yakni menurut ketentuan yang telah ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah berdasarkan wahyu dan perintah Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril. Surat-surat dalam Al-Qur’an ditinjau dari segi panjang pendeknya terbagi 4 bagian:

  1. As Sab’uth Thiwaal, tujuh surat yang panjang yaitu Al-Baqoroh, Ali Imran, An Nisaa’, Al Maidah, Al An’aam, Al A’raf dan Yunus.
  2. Al Mi’uun, surat yang jumlah ayatnya lebih dari 100 ayat, seperti Hud, Yusuf dsb
  3. Al Matsani, surat yang jumlah ayatnya kurang dari 100 ayat, seperti surat al anfal
  4. Al Mufashshol, surat yang jumlah ayatnya sekitar 50 ayat atau kurang, terdiri dari surat-surat pendek seperti surat2 pada juz 30, 29, 28, 27 dst...

4.  Pembagian Al-Qur’an

Sejak zaman sahabat telah ada pembagian Al-Qur’an menjadi ½ , 1/3 dsb. Pembagian tersebut hanya untuk mempermudah dalam menghafal dan bacaan dalam sholat. Pembagian tersebut semula tidak ditulis dalam mush-hsf, baru pada masa Al Hajjaj bin Yusuf ditambahkan istilah-istilah baru yg ditulis di dalam atau tepi mush-haf. Pembagian tersebut ialah, pembagian Al-Qur’an menjadi 30 juz, 60 hizb dan 554 ruku’

Dalam rangka mempermudah proses belajar dan hafalan al-Qur’an, rata-rata para hafizh di seluruh dunia menggunakan mush-haf standar (mush-haf pojok) karena setiap halaman berakhirkan nomor ayat, dan setiap halaman terdiri dari 15 baris. Satu juz terdiri dari 10 lembar atau 20 halaman

5.   Nuzulul Qur’an

Nuzulul Qur’an (turunnya Al-Qur’an) dibedakan menjadi dua macam yaitu pertama turunnya Al-Qur’an dari Lauhul Mahfuzh ke baitul ‘izzah di langit dunia, yang mana peristiwa ini terjadi pada tgl 17 Ramadhan 610M, tapi ada juga ulama yg mengatakan tgl 24 Ramadhan. Kedua turunnya al-Qur’an dari langit dunia kepada Rasulullah SAW melalui malaikat Jibril, dalam waktu secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Diantara hikmahnya adalah:

1.  Untuk menguatkan dan meneguhkan hati Rasulullah saw (QS Al Furqon: 32)

2.  Sebagai tantangan dan mu’jizat

3.  Memudahkan dalam menghafal dan pemahaman

4.  Penetapan hukum yang bertahap

5.  Bukti yang pasti bahwa al-Qur’an adalah dari Allah SWT.

Ayat yang pertama diturunkan kepada Rasulullah adalah QS Al ‘Alaq 1-5, sebagaimana hadits riwayat Bukhori-Muslim dari ‘Aisyah r.a., “Sesungguhnya wahyu yang mula-mula diturunkan kepada Rasulullah ialah ar ru’ya ash-sholihah (mimpi yang benar) diwaktu tidur. Setiap kali bermimpi beliau melihat ada yg datang bagaikan cahaya terang di pagi hari. Kemudian beliau lebih suka menyendiri. Beliau pergi ke Gua Hira’ untuk beribadah beberapa malam. Setiap berangkat Rasulullah membawa bekal. Setelah habis bekal beliau pulang ke rumah Khodijah. Di gua hira’ beliau dikejutkan oleh suara kebenaran. Seorang malaikat datang kepadanya dan mengatakan iqro’ (bacalah). Rasulullah menceritakan, Maka akupun menjawab, Aku tidak bisa membaca. Malaikat tersebut kemudian memelukku sehingga aku merasa amat payah, lalu aku lepaskan. Setelah itu ia merangkulku untuk kedua kalinya sampai aku kepayahan. Kemudian ia lepaskan lagi, dan ia berkata lagi, iqro’! Aku menjawab, Aku tidak bisa membaca. Maka ia merangkulku ketiga kalinya sehingga aku kepayahan, kemudian ia berkata: Iqro' bismi rabbikalladzii kholaq. Kholaqol insaana min 'alaq. Iqro' wa rabbuka akrom. Alladzii 'allama bilqolam. 'Allamal insaana maa lam ya'lam.

        Ayat yang terakhir diturunkan, menurut pendapat yang paling kuat adalah QS Al Baqoroh: 281. Pendapat ini berdasarkan hadits riwayat An Nasai dan lainnya dari Ibnu Abbas ra., Setelah turun ayat ini Rasulullah masih menjalani masa hidupnya 9 hari, kemudian Beliau wafat pada hari Senin 3 Rabi’ul Awwal.

                Adapun yang mengatakan bahwa ayat yang terakhir turun adalah QS Al Maidah: 3, adalah kurang tepat, karena ayat tersebut diturunkan ketida Rasulullah melaksanakan haji wada’. Sedangkan seusai haji wada’ Beliau masih menjalani masa hidup selama 81 hari.

6.  Jam’ul Qur’an

Jam’ul Qur’an (pengumpulan al-Qur’an) mengandung 2 makna, pertama menghafal di dalam hati, kedua menulis dan membukukan. Sahabat yang terkenal dalam bidang al-Qur’an adalah 7 hafizh, yaitu: Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Mu’aqqil, Muadz bin Jabbal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sukun dan Abu Darda. Penulisan Al-qur’an terdiri dari 3 periode, masa Rasulullah, masa Abu Bakr dan masa Usman bin Affan.

1.  Penulisan Pada Masa Rasulullah SAW

Rasulullah telah mengangkat para sahabat sebagai penulis-penulis wahyu, diantaranya: ’Ali, Mu’awiyah, Ubay bi Ka’ab, Zaid bin Tsabit. Bila turun ayat, rasulullah memerintahkan mereka untuk menuliskannya. Kemudian para sahabat menuliskan al-Qur’an pada sarana yang sangat terbatas dan sederhana, semisal pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit, daun kayu, pelana atau potongan tulang binatang. Ini menunjukkan betapa besar kesulitan yang dipikul oleh para sahabat dalam menulis al-Qur’an karena tidak adanya alat tulis yang lengkap. Sehingga pada masa itu al-Qur’an belum rapi dan belum tersusun dlam bentuk mush-haf

2.  Penulisan Pada Masa Abu Bakar As Shiddiq

Penulisan al-qur’an pada masa Abu Bakar adalah dalam rangka menjaga keutuhan al-Qur’an agar tidak hilang seiring dengan banyaknya para penghafal al-Qur’an yang syahid di medan jihad (kurang lebih 70 hufazh), pada peristiwa perang Yamamah th 12 H.  Melihat keadaan ini, Umar bin Khattab merasa sangat khawatir, kemudian beliau meminta agar khalifah mengumpulkan dan membukukan al-Qur’an karena khawatir al-Qur’an akan musnah. Pada awalnya Abu bakar menolak usulan itu, karena tidak pernah dilakukan dan dianjurkan oleh Rasulullah. Tetapi Umar terus membujukknya dengan berbagai argumen yang mendasar, sehingga akhirnya Abu Bakar menerima usulan tersebut/ Kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk meneliti dan menghimpun al-Qur’an. Pada mulanya Zaid juga menolah, namun demi kemaslahatan, akhirnya Zaid menerima tugas tersebut dengan lapang dada. Zaid bin Tsabit memulai tugas yang sangat berat ini dengan bersandarkan pada hafalan dan catatan para penulis wahyu di zaman Rasulullah. Setelah lembaran-lembaran tersebut dihimpun dan ditulis, selanjutnya disimpan di tangan Abu Bakar. Setelah Abu Bakar wafat maka berpindah ke tangan ‘Umar. Dan setelah ‘Umar wafat mush-haf tersebut berpindah ke tangan Hafsah binti Umar, Ummul Mu’minin.

3.  Penulisan Pada Masa ‘Utsman bin ‘Affan

Penulisan al-Qur’an pada masa ’Utsman bin ’Affan (25H) adalah dalam rangka menyatukan berbagai macam perbedaan bacaan yang beredar di masyarakat saat itu.

Penyebaran Islam bertambah luas dan para hufazh tersebar ke berbagai wilayah, diantaranya ketika terjadi peperangan di kawasan Armenia dan Azarbaijan (Uni Soviet). Tentara muslimin yang berperang ada yang berasal dari Irak dan Syiria.

Pada suatu ketika Huzaifah bin Al yaman melihat ada perbedaan dalam bacaan al-Qur’an dengan saudara muslim lainnya. Melihat kenyataan ini Huzaifah menghadap Khalifah ’Utsman dan melaporkan apa yang dilihatnya. Khalifah segera memprakarsai penulisan ulang al-Qur’an dengan tujuan agar kaum muslimin mempunyai rujukan tulisan al-Qur’an yang benar-benar shahih dan dapat dipertanggung jawabkan. Dengan kata lain, khalifah ’Utsman mempersatukan mush-haf (tauhidul mushahif). Selanjutnya ’Utsman membentuk tim, yang terdiri dari: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin ’Amr bin Ash, Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, dan Abdullah Ibnu ’Abbas. Menurut riwayat yang masyhur, jumlah mush-haf yang ditulis pada masa ’Utsman ada 4 buah. Satu mush-haf disimpan d rumah beliau di Madinah sementara lainnya dikirim ke Basrah, Kuffah dan Syiria.

7.   Rosm ‘Utsmani

Rasm ’Utsmani adalah bentuk penulisan al-Qur’an yang telah desepakati oleh Kholifah ’Utsman bin ’Affan pada saat penulisan mush-haf. Rasm ’utsmani berbeda dengan rosm Imla’i. Pada aslinya, rosm ’utsmani tidak ada tanda titik untuk membedakan jenis huruf. Juga tidak ada harokat fathah, kasroh dan dhommah. Namun para sahabat tidak mengalami kesulitan membacanya karena mereka penghafal al-Qur’an. Kemudian pada masa selanjutnya dilakukan kodifikasi titik, harokat dan waqof-washol.

8.    Makkiyah Madaniyyah

Berdasarkan tempat dan peristiwa turunnya, ayat-ayat al-Qur’an dibedakan menjadi ayat makkiyyah dan madaniyyah.  Ayat-ayat makkiyah dapat diketahui dari ciri kasnya sebagai berikut:

a.  Diturunkan di Mekkah dan sekitarnya

b.  Di dalamnya mengandung sajdah

c.  Mengandung kata Yaa ayyuhannaas

d.  Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksanya, surga dan nikmatnya, argumen terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniyyah

e.  Peletakan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlaq mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara zholim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.

f.    Suku katanya pendek-pendek disertai dengan kata-kata yang mengesankan sekali. Pernyataannya singkat, di telinga terasa menembus dan terasa sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun menyakinkan dengan diperkuat lafadz-lafadz sumpah.

Adapun ayat-ayat madaniyyah dapat diketahui berdasarkan ciri sebagai berikut:

a.  Diturunkan di madinah dan sekitarnya (sesudah hijrah)

b.  Setiap yat berisi kewajiban atau had (sanksi)

c.  Menjelaskan tentang ibadah, mu’amalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasional baik di waktu damai maupun perang, ketatanegaraan, kaidah hukum dan masalah undang-undang

d.  Suku kata dan ayatnya panjang-panjang dengan gaya bahasa yang memantapkan syari’at serta menjelaskan tujuan dan sasarannya.

Referensi:

Al-Qur'an al-Kariim

At-Tibyan fii adabi Hamalatil Qur'an, An-Nawawi

Uluumul Qur'an, Ahmad Muzammil MF



Read More “'Uluumul Qur'an”  »»

Keutamaan Ahlul Qur'an

Ketertarikan kita terhadap sesuatu tergantung pada pengetahuan kita tentang kelebihan atau manfaat (fadho’il) dari sesuatu tersebut.  Agar manusia tertarik dengan Al-Qur’an maka manusia harus tahu tentang kelebihan dan manfaat al-Qur’an. Oleh karena itu Rasulullah SAW banyak menjelaskan fadhilah al-Qur’an kepada ummat Beliau, yang terekam dalam hadits-hadits Beliau yang shahoh dan Sharif. Di antara fadhilah al-Qur’an tersebut yaitu:

1. Mempelajari al-Qur’an adalah sebaik-baik kesibukan.

 Barang siapa yg disibukkan al-Qur’an dalam rangka berdzikir dan memohon kepadaKu, niscaya akan Aku berikan sesuatu yang lebih utama dari apa yang telah Ku berikan pada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan Kalam Allah atas seluruh kalam selainNya adalah seperti keutamaan Allah atas makhlukNya (HR Turmudzi)

2.  Allah SWT mengangkat derajat Ahlul Qur’an (baca: orang-orang yang senantiasa berinteraksi dengan al-Qur’an) menjadi keluargaNYA.

 Sesungguhnya diantara manusia terdapat keluarga Allah. Para Sahabat bertanya, “Siapakah mereka Ya Rasulullah?”. Rasul menjawab, “Mereka hádala ahlul Qur’an, mereka keluarga Allah dan orang-orang pilihanNya” (HR Ahmad)

3. Al-Qur’an adalah kenikmatan yang harus didamba-dambakan

  Tidak boleh iri kecuali terhadap dua kenikmatan, kepada seorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang (HR Bukhorii)

4.  Ahlul Qur’an disejajarkan derajatnya oleh Allah dengan para Malaikat atau Nabi yang telah diberi wahyu. Sementara orang yang bacaannya masih terbata-bata dianugerahi dua pahala

        Orang yang pandai berinteraksi dengan Al-qur’an akan bersama malaikat yang mulia dan taat, sedangkan orang yang membaca al-Qur’an terbata-bata dan merasa kesulitan akan mendapatkan dua pahala (HR Muslim).

5. Ahlul Qur’an paling berhak menjadi imam dalam sholat berjama’ah,

 Yang berhak menjadi imam adalah yang paling banyak interaksinya dengan Al-Qur’an (HR Muslim)

6.  Ahlul Qur’an adalah orang yang selalu mendapat ketenangan, rahmat, naungan malaikat serta namanya disebut-sebut oleh Allah SWT.

  Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turun kepada mereka ketenangan, diliputi Rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatNya (HR Muslim)

7. Ahlul Qur’an adalah orang yang mendaparkan kebaikan dari Allah.

Sebaik-baik kalian hádala yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (HR Bukhori)

8. Al-Qur’an menjadi pemberi syafa’at bagi manusia yang menjadi sahabatnya.

  Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya (HR Bukhori)

9. Al-Qur’an mengangkat kedudukan manusia di surga.

Dikatakan kepada shohibul Qur’an, bacalah dan naiklah dan nikmatillah sebagaimana kamu menikmati bacaan Al-Qur’an di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kamu baca. (HR Abu Dawud & Turmudzi)

10. Al- Qur’an sumber pahala bagi orang yang beriman

 Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya satu kebaikan, satu kebaikan akan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim, itu satu huruf, namun alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf (HR Turmudzi)

11. Al-Qur’an kelak mengangkat derajat orang tua di akhirat  bagi yang berhasil mendidik anaknya dengan Al-Qur’an

Barang siapa yang belajat Al-Qur’an dan mengamalkannya akan diberikan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahayanya lebih indah dari cahaya matahari. Kedua orang tua tersebut akan berkata, “mengapa kami diberi ini?” Maka dijawab, “Karena anakmu yang telah mempelajari Al-Qur’an” (HR Abu Dawud, Ahmad & Al Hakim)

***

Referensi:
Al-Qur'an al-Kariim

At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, An-Nawawi

Ulumul Qur’an; Program Tahsin Tahfizh, Ahmad Muzammil MF



Read More “Keutamaan Ahlul Qur'an”  »»

Syarat Belajar Al-Qur'an

IKLASKAN NIAT

NIAT merupakan kata kunci dalam setiap amal perbuatan, termasuk amal dalam rangka mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an. Para ulama salafus sholih, senantiasa memulai setiap tulisan dalam kitab-kitab mereka dengan pembahasan masalah niat. Karena memang niat inilah yang sangat menentukan kualitas amal seseorang, apakah akan diterima atau ditolak oleh Allah SWT. Maka jauh-jauh hari Rasulullah mengingatkan dalam Sabda Beliau, Sesungguhnya hanyalah, segala amal tergantung pada niat. Dan setiap orang akan beramal sesuai dengan apa yang ia niatkan.(HR Bukhori-Muslim)

Fudhail bin ”iyadh berkata, Meninggalkan suatu perbuatan karena manusia adalah perbuatan riya’, melakukan sesuatu karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah tatkala Allah menjaga Anda dari dua penyakit di atas.

Setelah kita memutuskan untuk mengakrabkan diri berinteraksi dengan Al-Qur’an, maka kita harus segera membenahi semua yang ada dalam hati kita, bersihkan segala penyakit hati, murnikan niat hanya karena Allah SWT semata, jangan campuri niat-niat kita karena selainNYA. Mari kita sadari bahwa kita akan segera bergelut dengan firman Allah SWT yang suci dan mulia. Sangat tidak pantas ayat-ayat cintaNYA tercampuri oleh jiwa-jiwa yang kotor

SYARAT BERINTERAKSI DENGAN AL-QURAN

Secara umum– tanpa membedakan apapun jenis ilmunya– para salafush shalih telah meletakkan beberapa syarat mendapatkan ilmu.



Imam Asy-Syafi’i mengatakan dalam sebuah sya’irnya:
Yaa akhiy laa tanalul ilma illa bissittah
dzakaa', hirshun, wa ijtihad wa bulghoh
shuhbatul ustadz wa thuuluz zaman

Bait syair di atas menegaskan syarat-syarat yang harus ada pada siapa saja yang ingin menuntut ilmu, beriteraksi dengan atau menghafal Al-qur’an, yaitu:

1. Memiliki kecerdasan (dzaka’)

Kecerdasan terbagi menjadi dua: pertama, kecerdasan yang mutlak merupakan pemberian dan anugerah dari Allah swt. Kedua, kecerdasan yang bisa diupayakan oleh manusia, misalnya cerdas dalam mengulang, cerdas dalam mengatur waktu, cerdas dalam menjaga belajar, cerdas dalam memilih tempat dsb.

Kita sadar, setiap kita secara kodrat memiliki tingkat kecerdasan yang tidak sama. Ada orang yang hanya dengan sedikit melihat, mendengar dan membaca, ia langsung bisa menyerapnya. Inilah orang tipe pertama, yang secara kodrat diberikan kecerdasan oleh Allah. Tapi sebaliknya, ada juga orang yang sangat lambat dalam merespon materi yang ia peroleh. Inilah tipe orang kedua. Meskipun demikian, bukan berarti tipe orang kedua adalah orang yang tidak bisa cerdas. Jika ia dengan penuh kesabaran mengusahakan kecedasan tersebut niscaya ia akan cerdas melebihi tipe orang yang pertama.

2.Kemauan/ keinginan keras (hirsh)

Azzam, tekat, keinginan yang kuat adalah kata-kata yang semakna dengan hirsh. Semua itu adalah kesadaran hati untuk melakukan amal yang dikehendaki atau semacam dorongan yang kuat yang senantiasa terdetak dalam hati. Seseorang yang mempunyai kemauan / keinginan, cenderung akan sungguh-sungguh mengupayakan dalam amal perbuatan. Tetapi karena banyaknya godaan yang dihadapi, kemauan tersebut bisa berkurang bahkan lenyap sama sekali dari hati. Maka dari itu, saat ada hirsh kebaikan dalam hati kita, hendahnya segera kita berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengamalkannya.

3.Sungguh-sungguh (ijtihad)

Maknanya secara umum adalah mencurahkan segala potensi dan kekuatan untuk meraih sesuatu yang diinginkan. Tapi yang dimaksud ijtihad di sini (baca: dalam hal interaksi dengan Al-Qur’an) adalah himmah ‘aliyah, mutaba’ah yaumiyah dan banyak muroja’ah (mengulang). Bukan ijtihad dalam pandangan ulama Ushul Fiqih. Atau dengan kata lain ijtihad di sini adalah, bentuk aplikasi dari hirsh (baca: kemauan/ keinginan yang kuat)

Man jadda wa jada. Begitulah pepatah arab mengingatkan kita. Barang siapa bersungguh-sungguh maka ia akan memperoleh hasil dari kesungguhannya tersebut. Cita-cita yang tinggi tidak mungkin dapat diraih hanya dengan keinginan dan angan-angan, akan tetapi keinginan harus disertai kemauan keras dan usaha dengan penuh kesungguhan. Begitu juga halnya dengan belajar dan menghafal Al-Qur’an. Bagi siapa saja yang sungguh-sungguh dalam ”mendekatinya”, niscaya ia akan mendapatkan manisnya buah dari usaha tersebut, berupa ”kedekatan dengan Al-Qur’an”, sehingga ia layak dimasukkan dalam golongan ahlul Qur’an. Tiada balasan yang lebih baik bagi ahlul Qur’an selain Ridho Allah SWT, karena ahlul Qur’an derajatnya disejajarkan oleh Allah dengan para Malaikat dan Nabi yang telah diberi wahyu.

4. Butuh Bekal (bulghoh)

Maksudnya adalah bekal yang bisa menghantarkan sorang thalibul ilmi kepada ilmu yang dicita-citakan. Yaitu bekal berupa tenaga atau harta yang dihasilkan dengan cara dan melalui jalan yang halal. Boleh jadi, secara kasat mata kita telah menghabiskan banyak harta yang kita miliki dalam rangka menuntut ilmu, tetapi harus kita yakinkan bahwa hasil berupa ilmu itu nilainya jauh lebih besar dari harta bahkan dunia seisinya.

5. Berteman Dengan Ustadz ( Shuhbatul Ustadz)

Maksudnya adalah mulazamah dan disiplin mendatangi ustadz atau murabbinya yang akan membawanya ke jalan yang lurus. Menghafal dan mempelajari Al-Quran tidak mungkin dapat dilakukan tanpa guru yang sabar dan tekun di dalam memberikan ilmu dan bimbingannya.

6. Waktu Yang Lama (thuluzzaman)

Sebagian orang mempunyai minat thalabul ilmi hanya sementara. Pada awalnya memiliki semangat menghadiri majlis, mendatangi ustadz dengan penuh kesungguhan, mencurahkan harta dan tenaganya, kemudian setelah melewati beberapa saat semangat itu pudar.
Menuntut ilmu tidak cukup hanya dengan menghadiri majlis sekali atau dua kali, sebulan atau dua bulan, ia memerlukan waktu yang lama, kesabaran dan ketekunan. Imam Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’abil Iman dari Abdullah bin Mubarak, ia berkata:

"Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan meluangkan waktu, harta, menghafal dan waro’."

Read More “Syarat Belajar Al-Qur'an”  »»

Download

Files Download

Berikut beberapa ebooks yang dapat Anda miliki:
Keutamaan Membaca dan Mengkaji Al-Qur'an
La Tahzan: Aidh Al-Qorni
Soal Jawab Aqidah: Syeikh Jamil Zainu
Menghafal Al-Qur'an: Dr.Yusuf Qordhowi
Tafsir Fii Zhilalil Qur'an- Ayat Pilihan
Seputar Al-Qur'an: Makalah
Kado Pernikahan: Mahmud Mahdi Al-Istanbuli
Jangan Dekati Zina-Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah
Untukmu Kader Dakwah- Rahmat Abdullah
Sirah Nabawiyah- Musthafa As-Sibaie
Bagaimana Menyeru Kepada Islam- Fathi Yakan
Bahaya Islam Liberal- Hartono Ahmad Jaiz
Biografi Imam Syafi'i
Kumpulan Buku Karya Dr. Yusuf Qordhowi (lengkap)

Dajjal, Ya'juj& Ma'jud
Hisnul Muslim-Arabic&English
Materi Ceramah Ramadhan
Al-Quran Terjemah English
Abu Bakar Ash-Shiddiq- M. Husein_Haikal
Umar bin Khattab- M.Husain Haekal
Kumpulan Shahih Bukhori-English
Kumpulan Shahih Muslim
Risalah Nikah
Bantahan Terhadap Syubhat IM
aqidah ahlussunnah
Petunjuk Memilih Istri
Motivasi: renungan Pembangun Jiwa
Himpunan Hadits Qudsi



Software: Hadits Web 3.0
Software: Qur'an MsWord
Software: Prayer Time

Read More “Download”  »»

Tentang LTQ


Latar Belakang

LTQ Ibadurrahman adalah sebuah lembaga Al-Qur'an yang berusaha melalukan pembelajaran Al-Qur'an menggunakan metode yang mudah dan efektif.


NAMA & SEKRETARIAT

Nama
LEMBAGA TAHSIN & TAHFIZH ALQUR'AN IBADURRAHMAN

Selanjutnya dinamakan
LTQ IBADURRAHMAN

Sekretariat
Gg. Masjid, No.03, RT.05 / RW.03
Kp. Soka, Cukanggalih, Curug
Tangerang, Banten, Indonesia
Kode Pos 15810
Telp. / HP: 021-3201 4412 ; 0815 1043 5194
Website : www.ltqir.co.cc
Email : ltqir@yahoo.co.id


Logo
LTQ Ibadurrahman













VISI MISI

Visi:
Menjadi lembaga Al-Qur'an terdepan dalam membentuk generasi Qur'ani

Misi:
1. Membentuk generasi qur'ani yang cerdas dan kreatif, berakhlak mulia, sehat dan terampil
2. Mencetak para penghafal Al-Qur'an yang mampu mengamalkan ilmunya
3. Memasyarakatkan Al-Qur'an dan mengAl-Qur'ankan masyarakat
4. Membangun lembaga dakwah qur'an yang profesional
5. Menyebarluaskan model pembelajaran dan penghafalan Al-Qur'an yang mudah dan efektif

MOTTO
Cinta Qur'an, Hidup Bahagia

SUSUNAN PENGURUS LTQ IBADURRAHMAN
PERIODE 1430 - 1435 H

Dewan Pengurus Inti
Ketua : Ibah Surahman
Wakil Ketua : Roni Mahfudin Iskandar
Sekretaris : Indra Saputra
Bendahara : Shohibi
Bidang Kurikulum & Pembinaan Santri : Tati Hayati & Untung Suprapto
Bidang Litbang : Erna & Suwarno

Pengurus Sekretariat LTQ
Ketua : Muhamad Mujari
Ur. Administrasi & Tata Usaha : Lia Juliana
Ur. Managemen Keuangan : Sriewoyo
Ur. Sarana, Prasarana & Humas : Imam Sucipto & Nia Windiastuti
Ur. Pembinaan Santri : Saeful Riyanto & Desti Jaya



Read More “Tentang LTQ”  »»

Program LTQ

PROGRAM LTQ IBADURRAHMAN

PROGRAM AL-QUR'AN
1. BTA
2. Pra-Tahsin
3. Tahsin
4. Tahfizh
5. Tafhim & Tafsir

PROGRAM PENDUKUNG
1. Halaqoh / Dauroh Qur'an
2. Malam Senandung Al-Qur'an (MSQ)
3. Aksi Sejuta Qur'an (ASQ)
4. Rihlah & Studi Banding
5. Bedah Buku
6. Buletin Dakwah
7. Training Managemen Organisasi, Bisnis, Internet dll
8. Kajian Bahasa Arab, Ingris dll


PROGRAM PENGGALANGAN DANA
1. Wakaf Tunai Jama'i (WTJ)
2. Program Donasi Tetap (PDT)
3. Shunduq Gen-Qi


LEBIH DETAIL....

MALAM SENANDUNG AL-QUR'AN
Edisi Perdana


Muqodimah
LTQ Ibadurrahman telah menetapkan pondasi kesuksesan masa depan dengan membuat impian yang tertuang dalam Visi-Misi dan Program Kerja periode 5 tahunan. Dengan motto Cinta Qur’an Hidup Bahagia, para civitas LTQ Ibadurrahman senantiasa bersemangat untuk mewujudkan impian tersebut menjadi nyata. Salah satu program unggulan yang akan dijadikan andalan pemercepat impian tersebut adalah Malam Senandung Al-Qur’an (MSQ). Program tersebut diformat sebagai media konsolidasi internal berupa pemantapan kualitas, maupun publikasi eksternal untuk peningkatan kuantitas, penguatan finansial dan perluasan jaringan.
Program MSQ merupakan program kerja rutin LTQ Ibadurrahman yang diadakan per tiga bulan. Untuk program MSQ perdana kali ini akan digabung dengan launching metode el-Taisiir dan penggalangan dana.

Nama Kegiatan
Malam Senandung Al-Qur'an
disingkat MSQ

Tema Kegiatan:
“Semalam Bersama eL-Taisiir Dalam Senandung Al-Qur’an Menuju Pribadi Qur’ani Yang Peduli”

Landasan Kegiatan:
Rapat kerja perdana pengurus LTQ Ibadurrahman periode tahun 1430 H – 1434 H pada tanggal 26 Januari 2009 / 29 Muharram 1430 H di Mushola At-Taqwa Curug - Tangerang tentang Program Kerja Lima Tahunan (1430 H – 1434 H).

Maksud dan Tujuan
a. Mengakrabkan santri dan masyarakat dengan Al-Qur’an
b. Menggali nilai-nilai Al-Qur’an melalui kajian yang komprehensif untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari
c. Membangkitkan kesadaran akan pentingnya mempelajari Al-Qur’an dengan penuh cinta, agar hati menjadi sehat, pikiran menjadi jernih dan hidup semakin bahagia
d. Mengenalkan metode pembelajaran Al-Qur’an el-Taisiir kepada pada jama’ah
e. Melakukan penggalangan dana untuk pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana LTQ Ibadurrahman

Gambaran Kegiatan
Acara Malam Senandung Al-Qur’an (MSQ) Edisi Perdana kali ini diformat dalam bentuk MABIT (Malam Bina Iman dan Takwa) berikut:

Pre Acara: akan diperdengarkan murottal / mujawwad Al-Qur’an dari Syekh Abdullah Ali Basfar

Tasmi’ Al-Qur’an: akan diperdengarkan bacaan Al-Qur’an secara tartil (hasil dari metode el-Taisiir) secara langsung kepada jama’ah

Launching Metode el-Taisiir: diperkenalkan dan dijelaskan apa itu metode el-Taisiir
Semalam Bersama eL-Taisiir Dalam Senandung Al-Qur’an Menuju Pribadi Qur’ani Yang Peduli

Materi Seputar Al-Qur’an: kajian dan diskusi dengan narasumber dari Lembaga Al-Qur’an el-Taisiir Pusat Jakarta

Pengenalan LTQ Ibadurrahman: pengenalan secara mendalam seputar LTQ Ibadurrahman (Visi-Misi, Program Kerja, Pengurus, dll) kepada jama’ah

Penggalangan Dana: mengajak para jamaah untuk peduli dengan dakwah bil Qur’an

Qiyamullail dan Muhasabah: suatu pembiasaan kepada jama’ah untuk senantiasa sholat malam dan bermuhasabah (menginstropeksi diri)

Kuliah Subuh: kajian pagi hari sebagai santapan rohani menghadapi hari-hari sebagai generasi Qur’ani

Waktu, Tempat dan Agenda Kegiatan
Hari / Tanggal : Sabtu s.d Minggu / 6 Juni 2009 s.d 7 Juni 2009
Waktu : Pukul 18.30 s.d 24.00 (Sabtu)
Pukul 00.00 s.d 06.00 (Minggu)
Tempat : Masjid Al-Ikhwan Perum. Citra Raya Cikupa - Tangerang.

Agenda : Insya Allah agenda acaranya adalah sebagai berikut
18.00 s.d 18.30 Shalat Maghrib berjamaah
18.30 s.d 19.00 Diperdengarkan murottal / mujawwad Al-Qur’an
19.00 s.d 19.20 Shalat Isya berjamaah
19.20 s.d 19.30 Pembukaan acara
19.30 s.d 20.00 Tasmi’ Al-Qur’an hasil dari metode el-Taisiir
20.00 s.d 20.20 Sambutan-sambutan
20.20 s.d 21.20 Launching el-Taisiir + Materi seputar Al-Qur’an
21.20 s.d 21.50 Diskusi dan tanya jawab
21.50 s.d 22.00 Pengenalan LTQ Ibadurrahman
22.00 s.d 22.50 Penggalangan dana
22.50 s.d 23.00 Doa dan penutup
23.00 s.d 03.00 Istirahat
03.00 s.d 04.30 Qiyamullail dan Muhasabah
04.30 s.d 04.50 Sholat Subuh berjamaah
04.50 s.d 05.20 Kuliah Shubuh

Peserta Kegiatan
Target peserta berjumlah 500 jama’ah, yang terdiri dari:
Seluruh santri LTQ Ibadurrahman
Tokoh masyarakat setempat
Undangan pelajar (ROHIS SMP, ROHIS SMU & ROHIS Kampus) sekitar Tangerang
Remaja masjid & majelis ta’lim sekitar Tangerang
Undangan DKM Pabrik (ROHIS Pabrik) sekitar Tangerang
Masyarakat Tangerang dan sekitarnya

Kepanitiaan:
Kepanitiaan untuk acara MSQ ini kami namakan ”Tim Gen-Qi” (Generasi Qur'ani)

Steering Committee ( SC )
Ibah Surahman
Indra Saputra
Muhamad Mujari
Sriewoyo
Imam Sucipto
Tati Hayati
Erna

Organizing Committee ( OC )

Ketua Pelaksana : Saeful Riyanto

Koordinator Keuangan & Administrasi : Lia Juliana
Anggota :
Aisah Ropikoh
Asih
Desi Kamalia
Nusroh

Koordinator Acara : Setyo Ragil Utomo
Anggota :
Hariyanto
Sukisno
Mulyasari

Koordinator PubDekDok : Idris Binasri
Anggota :
Candra
Hadi Sutopo
Kusnendi

Koordinator Perlengkapan & Konsumsi : Abdul Basit
Anggota :
Zaenal Abidin
Triwiyanti Atikah
Sumi

Koordinator Transportasi & Keamanan : Teguh W.

Donasi
Donasi adalah sumber pendanaan yang berasal dari perorangan dan perusahaan / instansi yang peduli dengan kegiatan ini tanpa adanya suau ikatan dan / atau kewajiban yang harus dilaksanakan oleh panitia penyelenggara.
Donasi bisa diserahkan secara langsung kepada seseorang yang diberikan surat tugas atau donatur datang langsung ke sekretariat LTQ Ibadurrahman.
Selain itu, donasi bisa juga di transfer melalui rekening berikut:
Bank Central Asia (BCA) No. Rek. 711.079.9327 a.n: Lia Juliana
Bank Muamalat Indonesia No. Rek. 900.054.3877 a.n: Ibah Surahman
Bagi donatur yang telah mentransfer agar konfirmasi melalui SMS ke 0857 8257 0505 (Lia Juliana).

Read More “Program LTQ”  »»